yang paling populer

Sabtu, 31 Desember 2011

TEKAD

TEKAD
Oleh hafiedz_ilham


            Mata di cermin itu menunjukkan mataku, desahan nafas yang mengeras membawa sebuah Tanya. Kapan aku berubah?. Dari tahun lalu hingga kini keadaannya sama. Selama hidup 28 tahun ini, sepertinya orangtuaku belum bias tenang melihatku, mereka selalu menekanku untuk secepatnya mendapatkan pekerjaan, menyesali pendidikan masalaluku dan tak pernah menyukaiku.
            Sementara adik perempuanku telah menikah bahagia, aku di sini tetap seperti dahulu, datar yang menurun. Adik terakhirku yang remaja malah berhasil menggores prestasi dalam akademi pendidikannya. Aku sangat ingat waktu perayaan, aku baru sadar jika tangisan orang tua yang diberikan untuk adikku itu menumbuhkan sebuah dendam. Dendam positif. ‘andai tangisan itu, tetesaan air mata kebanggaanku untukku’, andai suara ‘kau memang anakku’ itu dijunjukkan untukku, andai pelukan orangtua itu benar-benar untukku. Aku rela. Aku akan rela menyerahkan semua yang aku punya. Dalam keadaan nyata memang aku tak punya apa-apa. Jadi aku harus bagaimana?.
            Cermin tua itu memantulkan mata yang mengucurkan air mata tekad, air mata yang berjanji untuk bias membahagiakan ibu dan ayah. Jika mengingat itu, aku tak lagi ingat cacian ayah dan ibu mengenaiku,walau mereka tak mendukung dan tak memberi jalan aku tetap akan membahagiakan mereka. Memang kadang mereka bertingkah seolah-olah mereka tak pernah menganggapku ada tapi aku bias bertingkah seolah-olah mereka menganggapku ada. Apapun ang terjadi sampan anti langit runtuh aku akan membahagiakan ibu.
            Dalam lamunan itu, ak berkaca lagi, aku melihat diriku lagi, melihat keadaan dan melihat latar belakang.selam ini, jika difikirkan tak pernah ibuku bangga padaku. Di pengajian, aku tak terlalu gagap untuk melafalkan bismillah dan alfatihah. Aku juga tak terlalu lama untuk mengkhatamkan al-qur’an di kiayi slamet. Di sekolah, memang aku selalu absent dan hampir tidak lulus di kelas akhir sekolah dasar, tapi kemampuan IQ ku lebih dari teman-temanku. Di rumah, aku selaluy melakukan yang aku bias untuk membuat bunga orang tuaku. Sialnya apa yang aku bias itu sangat tak dibutuhkan orangtua. Apakah benar hany aku yang tidak istimewa?. Aku jadi lemas dan berakhir malas.
            Kemalasan yang aku rasakan sekarang membuat aku terlelap dalam lamunan, aku hanya memikirkan apa kata orang yang menilai keburukanku tanpa tahu apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki kekuranganku. Karena memang mereka tak memberi arah. Difikirkan bagaimanapun aku tak pernah menemukan jalan yang lurus dan pasti berujung buntu. Akhirnya aku punya hikmah dari semua itu, bahwa “hidup itu jalani aja dulu, mengalir kayak air. Dan jangan terlalu mengharap yang tinggi-tinggi, nanti kalau jatuh sakit”.
            Aku pernah ingin melakukan sesuatu hal besar, membuat perubahan dalam hidup. Ketika aku menjalaninya, mereeka sinis kepadaku, mereka mengomentariku dengan gaya khas ejekan mereka. Mereka sepertinya tak ingin melihatku bahagia, sukse dan menjadi apa yang aku mau. Sakit hati rasanya, cita-cita yang tinggi tandas terasa panas, jadi benar jik cita-cita itu jangan tinggi-tinggi, kalau jatuh sakit. Jadi memang benar batu biasa tak akan sama dengan batu dengan nama berlian.
            “kata siapa?”, “tahukah kau jika berlian itu terbuat dari bebatuan, kupu-kupu yang indah berasal dari ulat yang menjijikkan, dan tangisan bayi itu berawal dari cucuran darah rahim ibu. Apakah aku pelu memberikan contoh yang lebih banyak agar kau berfikir?”
            Aku terdiam bingung, mendengar jawaban dari pamanku, setelah aku menceritakan apa yang terjadi padaku selama ini. Pamanku orang yang hebatorang yang pertama yang tulus mengakuiku, percaya kemampuanku. Akupun belum menjawab pertanyaan mudah berbobot itu. Aku lebih suka memandang mata paman dan mendengar apa yang dibicarakanya.
            “hemm?!”
Aku menggeleng mengucap tak perlu.
“jadi?”
“Ya aku tahu, aku harus belajar pada batu, ulat, dan pengorbanan ibu untuk membuat mimpi menjadi nyata”
“poin apa sajakah yang kau dapatkan” Tanya paman.
Aku berfikir menyusun kata, dan yang dilkukan paman untkku adalah menyiapkan kertas dan pena untukku. Aku paham maksudnya. Aku mengambil secarik kertas dan pena itu dan kutulis poin-poin yang aku paham.
“batu biasa harus dipotong-potong, ditempa dan tersiksa untuk menjadi berlian. Dari sekian banyak batu mungkin hanya seperseribu bahkan lebih untuk mendapatkan secuil berlian” paman mengangkat alisnya memandang mataku. Dan kutulis. Pon pertama diisi oleh apa yang aku paham dari cerita batu biasa hingga menjadi berlian.aku mengangguk setelahnya.
“ulat, ingin menjadi kupu-kupu, terbang, indah, dan diidam-idamkan harus melewati proses yang dinamakan kepompong. Di dalamnyaulat berpuasa, kepanasan, menggeliat antara ingi berhenti dan melanjutkan niatnya. Dia bahkan telah melihat banyak ulat yang mati sebelum menjadi berakhir indah, kini dia bimbang, dia telah ragu. Yang tidak putus asa yang menjadi kupu-kupu. Kelak hal yang menjijikkan seperti ulat itu akan dipuji dan diagungkan”aku menulis JANGAN MENYERAH untuk poin kedua ini.
“sang ibu membawa sesuatu yang baru di perutnya, dalam masa sembilan bulan bahkan ada yang tahunan. semakin bertambah hari semakin naik timbangannya, di setiap detik bahkan disetiap ritme jantungnya. mempengaruhi tekanan darahnya bahkan kebutuhan kalsiumnya. menunggu kepastian yang hampir setahun itu, kepastian bahwa bayi yang dikandungnya itu selamat. dia bahkan harus belajar rileks dan tertib, mendahulukan perkara yang awal dan mengakhirkan perkara yang akhir. seperti jujur mengantri disaat antrianmu direbut. itu dilakukan supaya menjaga dan meningkatkan antidepresinya. dan yang pasti itu sebuah keadaan yang tidak menyenangkan. ini adalah salah satu alasan dari yang lebih, mengapa ibu harus lebih dihormati tiga kali lebih dari ayah sang pencari nafkah".
"he...he"gaya tawa khas paman muncul.
"sepertinya aku terlalu banyak bicara, silahkan giliranmu ilham"
aku diam sejenak, menuliskan poin ketiga. kulirik paman yang sedang minum teh, itu kebiasaannya. dia menaruh gelas setelah tegukan ketiga dan berbicara dengan bahasa tangan untuk mempersilahkanku untuk memulai.
"berarti yang harus saya lakukan adalah menjadi tahan banting seperti batu, tak menyerah dan bersabar seperti sang ibu"
"tapi"aku melanjutkan.
"bagaimana bisa mereka melakukan itu?"hening sejenak dan...
"mereka telah memiliki tekad"
"aku juga telah memiliki itu"
"bagus" paman memujiku
"tapi"
paman mencegahku untuk mengeluh "sikap!!!"
"banyak yang ingin, tapi sikap mereka seperti tak ingin".
"apa yang dimaksud dengan sikap?"
"jangan mengeluh dan bersyukur"
aku meresa lega setelah mendengar itu. Aku berikan senyuman terimakasih. kini aku siap untuk memulai perubahan. Seperti datang pagi setelah malam. aku akan membawa cahaya untuk masalaluku yang kelam. terima kasih paman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar